Tempat Berbagi Cerita, Humor, Ilmu Pengetahuan Dan File

GAMBAR, PROFILE, MENU DROP DOWN

Senin, 28 Mei 2012

PENCERAHAN UNTUK SAHABAT


Hari itu fajar subuh telah membuka pagi dibarengi lantunan adzan dan iqomah memanggil orang beriman untuk menyerahkan dan menyegerakan diri beribadah shalat subuh. Tak selang beberapa lama, kemudian matahari-pun ikut berpartisipasi menyemarakan suasana ruang menjadi cerah, terasa sinarnya begitu sangat menyilaukan mata.

Disaat hiruk-pikuk orang ditengah kota metropolis yang menghabiskan weekend masing-masing, tak berbanding lurus denganku dan dengan segala introvertku, seperti biasa disela-sela ruang kosong yang tersisa, kuhabiskan untuk membaca buku walaupun hanya beberapa halaman saja, bagiku tak begitu penting berapa banyak halaman yang dibaca, yang terpenting otakku tak beku, karena telah semestinya otak ini diberi makanan berupa ilmu dan hikmah. Tak selayaknya kita memarjinalkan otak diruang kebekuan tak produktif.

Hari ini, Ku tak tau apa yg hendak kutuliskan sekarang. Karena menurutku, ini adalah hari yang menyenangkan karena hari ini adalah weekend, saatnya merebahkan sejenak dalam ruang relaksasi dari segala kepenatan yang  memenuhi hari-hariku. Ya hari ini memang sangat menyenangkan bagiku, tapi mungkin berbeda dengan beberapa orang disekelilingku atau sahabatku yang sedang mengalami “kontra flow” kondisi kontradiktif tak menyenangkan, apalagi yang terkait langsung dengan hal sensitif seperti cinta dan pemenuhan perasaan.

Keindahan cinta telah mengantarkannya (sahabatku) dalam salah satu project sunnah Nabi yang telah digariskankan Allah Swt yaitu pernikahan,”nikah itu sunnahku. Barang siapa yang mencintai agamaku, maka hendaklah mengikuti sunnahku” (Alhadits). Alquran dalam surat Ar-rum ayat 21 menegaskan bahwa pernikahan adalah jalan yang telah digariskan Allah Swt pada manusia supaya cenderung dan merasa tentram dengan pasangannya, penuh rasa kasih serta sayang.

Bahkan Sang Hujjatul Islam, Imam Al-ghazali  dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menyatakan arti cinta/mahabbah dan kebencian, menurutnya “cinta adalah kecenderungan jiwa padanya karena keberadaannya sebagai suatu kelezatan, setiap yang bertambah kelezatannya, menambahkan kecintaannya, kelezatan mata dalam melihat, kelezatan telinga dalam mendengar. Setiap indra memilki kesesuaian yang menjadikannya merasakan kelezatan. Sementara kebencian adalah kebalikannya, yaitu ketidaksukaan jiwa karena keberadaannya sebagai sesuatu yang tidak cocok baginya”.

Merujuk kembali ke cerita awal tadi, ku mencoba merecovery dan mengingat-ingatnya kembali, pagi itu jarum jam menunjukan pukul 08.05 WIB, ku duduk di depan meja belajar dengan sebuah laptop yang sengaja terkoneksi ke internet, karna pagi itu kuhendak memposting tulisan ke blog yang berjudul tentang sebuahcita-cita.

Sambil blogging, tak lupa aku-pun membuka account facebook. Tak lama berselang ada pemberitahuan di account  facebookku, oh ternyata ada kiriman pesan dari sahabat yang telah kukenal sejak lama, hubungan persahabatan kami begitu baik dan intens walaupun tak pernah ketemu karna kesibukan masing-masing.

“Kalo Ari, bête atau sepi wajar da belum punya istri. Tapi kalo aku, bête atau sepi tak wajar!! karena aku telah bersuami”  itulah pesannya di account facebookku.

Ku termenung sejenak, tak terasa ku mengerutkan dahi karena ku merasa bingung, ada apa dibalik pesan itu, maksud apakah yang hendak disampaikan dari kiriman pesannya itu. Tanpa berfikir panjang aku-pun balik bertanya.

Kenapa, ada apa ???” kubalik bertanya dengan penasaran dan penuh rasa ingin tahu.

Setelah ku bertanya, mulailah dia menjawab dan menceritakan segalanya, segala yang ia rasakan. Mulai dari rasa kesal, marah, bête dan sebagainya. Kuperhatikan dengan seksama semua kata-katanya, sama seksamanya ketika aku mendengarkan presentasi dari relationship manager.

Setelah ku perhatikan dengan seksama semua kata-katanya (sahabatku), semuanya terasa begitu sangat ironis, fatamorgana, aneh, tak seindah realita. Bagaimana tidak ironis !!!, coba bayangkan, disaat seorang istri yang hendak melahirkan diacuhkan begitu saja, sang suami malah asik in-out sms dengan perempuan lain tanpa memperdulikan keadaan istrinya yang berjuang antara hidup dan mati melahirkan anak yang nota bene darah dagingnya sendiri. Masya Allah !!.

“Pas aku mau ngelahirin anak ke dua, dia ketahuan suka sms-an dengan wanita itu, bahkan ketemuan. Aku ngelahirin dalam keadaan stress, makanya pendarahan!!. Aku kecewa ke suami, ditanya baik-baik jawabnya selalu bohong. Aku nggak kuat dibohongin terus, rasanya udah hilang kepercayaan ini ke dia. Selama ini ku bertahan karna anak, anaklah yang membuatku bertahan dalam pernikahan ini” ucapnya dengan deraian air mata lirih penuh kesedihan dan rasa kecewa.

Kemudian ia-pun melanjutkan ceritanya,

“Mungkin ini udah digariskan Allah dalam kehidupanku. Kalo untuk disesali, ku nggak nyesel karena dari pernikahan itu ku punya anak yang selalu bikin aku kuat bertahan” ucapnya melanjutkan cerita, dengan nada fatalistik dan berusaha menguatkan jiwanya sendiri.

Seorang sahabat perempuan yang membangun keutuhan cinta telah sengaja dimarjinalkan dalam kondisi hipokrit oleh pasangannya sendiri yang telah mengikatkan janji suci illahiyah, sakral dalam perayaan akad suci yang khidmat.

Mendengar semua ceritanya, kian terasa begitu sangat memilukan sisi natural kemanusiaan, ku bisa merasakan betapa teririsnya hati yang sehat dengan telah sengaja dipaksa ditukarkan dengan sebentuk hati yang sakit, Seharusnya itu tak terjadi bagi orang-orang yang memang memiliki cinta atau bagi orang yang mengaku memilki cinta.

Bukanlah hanya sekedar memiliki cinta saja, karena cinta takkan pernah bersubstansi tanpa kebijaksanaan, cinta dan kebijaksanaan layaknya dua sisi mata uang, satu sama lain tak bisa dipisahkan, karena cinta yang diberlakukan tanpa kebijaksanaan takkan pernah menemukan arti cinta yg realistis, hanya sekedar status belaka yang melekat bahwa dia milik ini, mlik itu, pcar si ini, pacar si itu, suami si ini-itu, istri si ini-itu dan sebagainya.

Tentu saja bukan hanya sekedar identitas; berganti  status  yang  distempel bukti hitam diatas putih saja, tapi lebih dari sekadar itu ada makna terdalam bahwa semua hati, jiwa dan raga telah berucap janji setia untuk pasangan pilihan hati. Janji setia yang ternoda dihanyutkan dalam buayan kasih hati lain merupakan keadaan dimana kebijaksanaan tak menyertai cinta itu sendiri.

Ada kalanya orang yang lupa atau bahkan pura-pura lupa akan identitas yang melekat pada diri sendiri, identitas itu tiada lain adalah sebuah status; kemantapan hati, hati seorang suami dan hati seorang istri. Dua hati disatukan dalam janji suci akad yang kuat mitsaqan ghalidzan determinasinya adalah pernikahan. Pernikahan merupakan penyatuan dua hati untuk saling merasakan satu sama lain, satu rasa, satu asa, satu cinta. Tapi dari sikaf atau prilaku terkuak sebuah misteri keghaiban hati bahwa rasa itu hendak dikikis habis, inilah yang diberlakukan oleh orang-orang yang pura-pura lupa akan identitas statusnya sendiri.

Tanpa bermaksud untuk ikut campur dan prajudise (buruk sangka), telah selayaknya memperlakukan istri sebaik mungkin, jika ingin memberi, berilah yang terbaik dan terindah. “kemulian seorang laki-laki tergantung sejauh mana ia memuliakan istri” (Alhadits). Istri bukanlah proferti yang bisa diberdayakan ketika dibutuhkan dan diacuhkan bahkan dibuang hatinya begitu saja dan digantikan dengan hati lain tanpa tedeng aling-aling,  selayaknya diperlakukan sebagai manusia seutuhnya yang memiliki hati, memiliki hak dan kewajiban, hak istri adalah mendapat kebahagiaan lahir bathin, begitu pula sebaliknya.

Untuk sahabatku, __tanpa bermaksud untuk menceramahi, sekali lagi tanpa bermaksud untuk menceramahi, bahwa doktrin agama mengajarkan keimanan itu ada dua bagian, satu bagian adalah syukur, sebagian lain adalah sabar. Kesabaran dalam menghadapi ujian/cobaan, bahwasannya di dalam kitab suci Alquran lebih banyak ayat-ayat yang berbicara tentang sabar dari pada syukur, sabar tendensinya lebih ke hal-hal yang tak menyenangkan, sementara syukur konotasinya lebih ke hal yang menyenangkan. __Kalo boleh aku mengatakan, Tak pernah ada deadline dengan “sabar”, Sabar merupakan jalan tuhan yang terkadang  dengan sabar mampu merobek ruang hati, sebagai orang yang tak selevel dengan Nabi, alangkah tak mampu hati ini untuk melangkah dan meraih sabar yang telah disuratkan Allah Swt. Astagpirullah.

Tapi apapun itu dan terlepas dari semua, ini bisa dijadikan pencerahan, bahwa Rosulullah Saw bersabda: “as-shobru kanzum min kunuuzil jannati (sabar adalah salah satu dari perbendaharaan-perbendaharaan syurga)”. Jadikanlah semua problematika yang ada sebagai ujian yang dapat meninggikan kualitas diri dan keimanan.

 Wallohu ‘Alam Bishawab